Pendidikan Karakter Berada di Titik Nazir Peradaban?
Oleh: Sawali
(Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Kendal)
Dalam beberapa dekade terakhir ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi-aksi kekerasan. Negeri ini dianggap telah kehilangan nilai-nilai kesejatian diri sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat akibat meruyaknya aksi-aksi vandalisme yang tak henti-hentinya menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa kita yang multikultur dan multiwajah dinilai telah kehilangan sikap ramah. Nilai-nilai keberadaban telah tereduksi oleh sikap-sikap kebiadaban yang membudaya dalam bentuk tawuran pelajar, pemerkosaan, pembunuhan, mutilasi, aborsi, dan berbagai perilaku vandalistis lainnya yang menggurita di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Sentimen-sentimen primordialisme berbasis kesukuan, agama, ras, atau antargolongan menjadi demikian rentan tereduksi oleh emosi-emosi agresivitas. Bangsa kita seolah-olah telah menjelma menjadi “homo violens” yang menghalalkan darah sesamanya dalam memanjakan naluri dan hasrat purbanya.
Sungguh, kita sangat merindukan Indonesia yang multiwajah dan multikultur ditaburi dengan nilai-nilai keramahan, kearifan, dan fatsun kehidupan di berbagai sudut dan lorong kehidupan. Jangan sampai terjadi pesona kekerasan, arogansi kekuasaan, dan emosi-emosi agresivitas purba yang serba naif, makin memperkuat stigma bangsa kita sebagai bangsa bar-bar dan biadab.





